Wajah Baru Pendidikan Indonesia
Berbicara tentang
pendidikan, apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Guru, iya betul. Kenapa?
Karena guru adalah salah satunya alasan dari kunci keberhasilannya sebuah
pendidikan. Menjadi guru tidak lah mudah. Bermodal ijazah pun tidaklah cukup. Apa
point yang bisa menyempurnakannya? Keikhlasan. Sebab ketika kita membawa kecerdasan
bersama keikhlasan, akan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Begitu pula sebaiknya,
ketika kita membawa kecerdasan bersama kepongahan, sungguh tidak menghasilkan
manfaat apapun.
Belakangan ini maraknya
kasus guru yang terkena tindak pidana menjadikan profesi guru sangat
mengkhawatirkan. Ditugaskan mendidik tanpa adanya perlindungan. Justru dengan
anehnya beberapa dari mereka terjerat oleh pasal Hukum dan HAM. Tidak jauh-jauh.
Biasanya kasusnya adalah karna dianggap terlalu keras dalam mendidik. Padahal
terkadang hal yang dianggap “kekerasan” hanyalah sebuah “cubitan sayang”. Bagaimana
mungkin guru yang disumpah untuk menjadi suri tauladan berubah menjadi monster
di depan peserta didiknya. Sangatlah tidak mungkin.
Dulu kita semua
tau, guru adalah pelita dalam kegelapan dalam syair lagu hymne guru. Tapi mungkin
sekarang guru adalah pelita yang terabaikan. Atau bahkan beberapa siswa
menganggap guru adalah musuh dalam keterangan. Inilah wajah pendidikan
Indonesia jaman sekarang. Moral sudah tak lagi dikenal. Kemuliaan dalam
mengajarpun tak diperhitungkan. Tanpa rasa sungkan mereka berusaha
menghancurkan sumber ilmu mereka sendiri. Bayangkan jika ini terus terjadi,
siapa yang akan berdiri di depan kelas 20tahun mendatang. Mungkin sebuah robot
atau tidak sebuah layar LED.
Dalam keadaan yang
seperti itu, tentulah tidak ada lagi kasus cubitan manja berakhir sel jeruji. Tidak
ada lagi teriakan sayang berakhir gerutuan siswa. Tidak ada lagi tangan yang
harus dicium, karna tangan yang hangat itu sudah berubah jadi besi dingin tidak
berperasaan dan tanpa rasa sayang.
Salam maba fakultas ilmu pendidikan!